Janalokamaya: A blog by Leonard C. Epafras

mimpi itu bukan sunyi tapi bisu yang kental ● waktu senyap menyekat merintih menyeberangi kata dan tindakan ● waktu tunduk tepekur tiarap menggantung bumi ● tenggelam antara kepenuhan dan jati diri

ada gelegak

melihat senyum itu

menyambut
jiwa tetirah
di ribaanmu
... menguar dada yang
tadinya senak

meluku ...
menggembur hati
yang nyaris
bersemak

sebuah palimpsest hidup 
yang senantiasa
menggurat ulang kisahnya

... seperti kali pertama

30 juli 2015, di rembang mega, di sela penantian 


nurani senyap nian ...

berkedap legap
tersabet kilat mata
sekeji tyger*
corong jiwa yang kasap mengerut
tak sempatkah sendeng telinga
pada panggilan tobat?

menggilas tatap malaikat mungil
menyusutnya hingga hambar
menyelam legam 
menyongsong sorga


pantone 427 cubicle, juni 2015

http://indonesiana.tempo.co/read/43322/2015/06/24/leyonat03/nurani-senyap

* William Blake "Tyger"
** simpati pada Engeline dan anak-anak sebayanya yang hidup dalam kepungan dengki di tengah keluarganya sendiri




aku dari negri tak bermatra

matraku diambil orang

aku nomadik di bumi
tapi bumi yang kupijak
lintang bujurnya bukan milikku

aku benih dandelion layu

rumahku di angin
terkitir-kitir
melayang kesana kemari
gentayangan diseret nasib
mendarat di negeri padas
yang enggan bersetubuh denganku

aku jiwa tanpa tubuh

tubuh tanpa matra
matra tanpa senyawa
nyawa gersang tak miliki koin emas dibibir
untuk sekadar menyuap Charon
mengantar jiwaku ke negri orang mati

semua orang mengelakkanku
semua orang menyebut-nyebut namaku
seakan peduli ...
tapi tak ada yang mengembalikan matraku

mereka menjarah jiwaku
membolak baliknya
mencari apa yang tersisa
seperti Yesus dijarah menjelang penyalibannya

aku mencari-cari neverland
negeri sejenak
tempat mimpi sederhana
... teringkus kedalam repih jiwa

tapi ...
tak ada yang mengembalikan matraku



juni 2015

http://indonesiana.tempo.co/read/42541/2015/06/09/leyonat03/exoria

* dipersembahkan bagi para penghuni negeri tak bermatra: Rohingya, Siria, Palestina, Timor Leste di Timor Barat, korban kerusuhan, dan mereka yang menderita deteritorialisasi.

mencintai angin harus menjadi siut ...

mencintai air harus menjadi ricik ...
mencintai gunung harus menjadi terjal ...
mencintai api harus menjadi jilat ...
mencintai cakrawala harus menebas jarak ...

mencintaimu harus menjadi aku

(SDD 2000)


di hadapan duka-derita-durjana
ia hadir di dunia
dalam rapuh dan ripuh
tuk menguji
apakah cinta kita pada sesama itu
... bertepi

LCE, Desember 2014


photograph by Ipoenk Graphics

NOTICE

Mohon untuk tidak COPY-PASTE begitu saja karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas pergaulan, bukan?

Please do not COPY-PASTE without the owner consent. Blog is a creative work.


Silahkan klik di sini


Janalokamaya


This blog is created by Leonard C. Epafras.
It meant to be an exotopy of my self. An orifice of unsettled thinkings, reflections, and reports of the ongoing observation of the tiny fraction of the life.
Enjoy