Saya tersentak ketika membaca berita disebuah situs berita online, bahwa gempa Padang yang baru saja terjadi kemarin di setarakan dengan gempa Yogya 2006. Pagi ini (ketika saya menulis) disebutkan gempa ini bahkan lebih dahsyat dari gempa Yogya dengan perkiraan korban akan sama dengan di Yogya. Keterhubungan yang menyentuh emosi ini memberi “nilai tambah” bagi saya serta mendorong saya untuk menulis artikel ini. Sebab tentu saja ada banyak gempa yang terjadi, dari yang tanpa banyak korban hingga yang serius seperti gempa Cianjur diawal bulan lalu. Kita memang hidup di dunia yang tidak aman dan semakin tidak aman.
Peristiwa gempa tiga tahun lalu masih tergores kuat di ingatan. Sampai hari ini warisan gempa itu masih nyata bagi keluarga kami, sebab baru bulan lalu kami mampu menyelesaikan pemasangan eternit di langit-langit rumah. Ketika gempa terjadi di bulan Mei 2006, rumah yang baru kami beli seketika tak beratap dan sebagian dinding roboh. Butuh tiga tahun untuk “pemulihan” fisik, tapi ingatan itu membekas lama sekali. Tiap kali ada getar sedikit saja, entah karena ada truk lewat, atau kasur dipan yang berderit, langsung pikiran ini connect “ada gempa?”
Bersamaan dengan peristiwa ini, di tengah sibuk dengan berbagai urusan dan paper, peristiwa bencana akhir-akhir ini membangkitkan saya akan gagasan hosana sebagai ekspresi permohonan pertolongan keselamatan dari Tuhan. Pikiran ini sudah muncul sejak tahun lalu ketika saya mengajar Ibrani Dasar, dan harus menerangkan bentuk kata kerja imperative (perintah), cohortative (memberi dukungan), dan jussive (permohonan). Ketika itu contoh kata yang saya berikan adalah hosana (hosha nah, atau variasinya hoshia nah) yang artinya “selamatkanlah!” atau “mohon (dengan sangat untuk) diselamatkan.” Setelah mengajar, saya jadi termenung-menung menyadari bahwa selama ini hosana saya mengerti sebagai bagian dari puji-pujian pada keselamatan Tuhan melalui Yesus Kristus. Saya yakin banyak orang Kristen yang juga memahaminya demikian. Apalagi dalam liturgi gereja, ungkapan ini disenandungkan pada minggu sengsara menjelang perayaan Paskah. Tetapi justru makna Ibraninya sangat mengganggu. “[Tuhan] selamatkanlah [kami]!!” Lho, mengapa justru isinya miris seperti itu. Jika ungkapan populer “Tuhan kasihanilah kami,” istilah kerennya yang berasal dari tradisi gereja Timur, kyrie eleison dihubungkan dengan keadaan berdosa kita (lih. Lukas 18:13), sebaliknya selama ini hosana sering didengungkan dengan percaya diri dan gembira karena keselamatan itu telah datang. Tetapi bagaimana gambaran hosana yang lain? Sejauh yang saya tahu penggunaan kata ini paling mengesankan dalam film Moses, the Prince of Egypt dalam versi Ibraninya. Pada lagu latar dalam penggambaran penderitaan bangsa Israel ada seruan “deliver us” (bebaskan kami), dalam bahasa Ibraninya adalah “hoshia nah.” Jelas sekali ada citra berbeda dari yang selama ini saya mengerti dalam tradisi Kristen.
Kata “hosana” yang berkonotasi kegembiraan akan keTuhanan dan keMesiasan Yesus tampaknya sukar dihapus di benak kita. Sejak saya kecil hingga saat ini, kata itu dihayati sebagai ungkapan hormat “kebangsawanan” terhadap Yesus. Gambaran mental yang sangat hidup adalah Yesus yang dielu-elukan sebagai raja ketika masuk ke Yerusalem di mana kerumunan orang dengan gembira menyambutnya dengan daun palm.
Kata hosana muncul 5 kali di Perjanjian Baru. Teks itu bisa dibaca selain sebagai ungkapan rohani akan pertolongan Tuhan melalui kehadiran Mesias (Yesus), ia juga dapat dibaca sebagai provokasi terhadap struktur yang menindas. “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!,” menurut teks Matius 21:9. Jelaslah harapan para kerumunan itu ketika Yesus masuk ke Yerusalem adalah kelepasan dari penindasan kekuasaan yang menindas (Romawi dan kroni-kroninya) melalui seruan minta tolong kepada “Anak Daud,” mendahului seruan minta tolong kepada Tuhan! Ini adalah seruan yang sangat peka terhadap persoalan nyata hidup ini. Seruan kepada Anak Daud bukanlah semata seruan agar jiwa diselamatkan, tetapi agar terjadi pembebasan dari penindasan.
Saat ini ada banyak gedung dan fasilitas gereja yang diberi nama Hosana. Ada juga perusahaan rekaman yang bernama Hosana. Saya menduga bahwa penamaan itu adalah bagian dari ekspresi pemujaan kepada Yesus. Sebagai ungkapan syukur atas keselamatan yang dianugerahkan melalui karyaNya. Bisa jadi tak terlintas oleh inisiator nama-nama itu bahwa hosana justru pada dasarnya adalah seruan minta tolong dari kesesakan hidup.
Mazmur 118:25 memberikan gambaran yang baik soal ini.
Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! (‘anna’ YHWH hoshi’ah nah)
Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! (‘anna’ YHWH hitslikhah nah)
“Keselamatan” dihubungkan dengan “kemujuran.” Jadi keselamatan bukan melulu soal rohani dan keselamatan jiwa, tetapi juga kemujuran hidup, yaitu terbebasnya dari tekanan hidup.
Hosana bukan lagi semata ungkap puja dan puji bagi Tuhan semata, tetapi ia jelas merupakan metafora kehidupan manusia di dunia yang penuh bahaya. Hosana merupakan distilasi rasa perih sekaligus rengekan agar Tuhan turut campur dalam penderitaan manusia. Penekanan hosana semata sebagai puncak kebahagiaan manusia atas kemuliaan Tuhan akan menjadi sinisme di tengah penderitaan dunia.
Suasana Paskah tahun ini sudah lama berlalu, tapi jeritan hosana terus menerus bergema di mana-mana, oleh banyak orang. Hosana adalah seruan orang yang tertindas, tidak terbatas oleh komunitas agama tertentu, kalangan tertentu. Ketertindasan oleh bencana nyata di tengah kita. Episode terakhirnya adalah seruan hosana dari Padang.
Jadi mari kita tolong mereka!
Posted by
Leo Epafras
comments (0)
