hati ini meluap-luap
ingin sampaikan kabar
yang berlari menelusur
ribuan kabel dan
hamburan pancaran sinyal
bahwa
diri ini merindu sangat
ingin duduk di sebelahmu
meredam gigil tubuhmu
menyalur hangat padamu
menyerap racun di tubuhmu
membagi nafas melegakan parumu
memberi kekuatan hingga matahari terbenam
meyakinkanmu
kalau sakitmu adalah sakitku jua
dan bahwa aku sangat mencintaimu
2 my valentine
bintang jatuh melintas
menyapu dua kejap
menyuluh malam lebam
menggaris langit guram
dengan cahaya membahana
kugumam pinta
tak hanya satu
tapi seratus sekaligus
hingga
walau tak penuh seluruh
satu harap hendaklah terjawab
kubuntuti segenap daya
selagi bisa
sebelum ia bergerak melengkung
ke langit seberang
menebar mantra baru
memikat hati yang menantinya
dan meninggalkanku
bersama gelap semula
menyisakan hasrat yang tak pungkas
harus …
… kuhafalkan keindahannya
yang dua kejap itu
… kukenang sekuat tenaga
sebelum ia memburam lalu lenyap dari benak
… kulafalkan berulang namanya
supaya kuat bersemayam
di lubuk hati
… kurekam sebanyak mungkin
tiap berkas yang sempat
hinggap menghangatkan kulitku
sebab …
di momen itu
satu harap dari seratus pinta
untuk terakhir kalinya
rasa memiliki itu berkuasa
ujung dari kebahagiaan singkat
sekerdipan sapuan
… bintang jatuh
langit mengrenyit pedih disangrai pagi
hingga terbungkuk-bungkuk
merunduk lekat ke bumi
tak kuat menopang tubuhnya
tumbang berdebam berkelung debu
....
berhamburan orang memancar ke segala arah
ketika langit berulekan biru-lembayung-jingga
menghitam zoom in
sebagiannya orang membatu tercekat malang
menanti undangan ke rumah Bapa di Sorga
tanpa appointment
seorang tukang becak cilik
mengayuh cepat menghindar timpa
menyambar serpih runtuhan langit
berhenti setelah selamat
meraih cone es krim putihnya
mengoles langit dipuncaknya
menjadi tudung biru-lembayung-jingga (mirip mirip Wall's Rainbow)
ini es krim pertama
seumur hidupnya
langit jadi hitam
kenapa sih kamu ga tetap mati aja?
daripada menggangguku
kenapa sih tubuhmu yang menganga
kau pamer-pamer?
orang jijik tauk ...
melihat kamu yang terbelah
tak berharga
terhina
tau ga ...
kamu itu tak lebih hinawarnna dari duratma mahadahsyat
kamu itu sudah mati seribu kali
dah ...
sana ... jangan kamu nempelin aku terus
aku ga mau tau kamu lagi koq
lebay ...
ke ge-eran
klo kau mengira orang masih mau mengingatmu
kan sudah kunisankan dirimu
dengan ukiran indah
bertulis "mei 1998"
di atasnya ...
kurang apa lagi?
dasar majnun ...
* Yogyakarta, 16 Mei 2010, 12 tahun setelah angkara itu berlalu


