Janalokamaya: A blog by Leonard C. Epafras

mimpi itu bukan sunyi tapi bisu yang kental ● waktu senyap menyekat merintih menyeberangi kata dan tindakan ● waktu tunduk tepekur tiarap menggantung bumi ● tenggelam antara kepenuhan dan jati diri


kulihat

pupil mentari membesar

merah membelalak

mendenguskan kuasanya yang tersisa

lalu luluh tak berdaya

menahan tubuhnya

yang terseret jatuh

di telan air samudera

lalu berdesis meringis

meninggalkan lembayung sedih

lenyap ...

maka hari terlipat dengan rapi

hati ini meluap-luap
ingin sampaikan kabar
yang berlari menelusur
ribuan kabel dan 
hamburan pancaran sinyal
bahwa 
diri ini merindu sangat

ingin duduk di sebelahmu
meredam gigil tubuhmu
menyalur hangat padamu
menyerap racun di tubuhmu
membagi nafas melegakan parumu
memberi kekuatan hingga matahari terbenam
meyakinkanmu
kalau sakitmu adalah sakitku jua
dan bahwa aku sangat mencintaimu


2 my valentine

bintang jatuh melintas
menyapu dua kejap
menyuluh malam lebam
menggaris langit guram
dengan cahaya membahana

kugumam pinta
tak hanya satu
tapi seratus sekaligus
hingga 
walau tak penuh seluruh
satu harap hendaklah terjawab

kubuntuti segenap daya
selagi bisa
sebelum ia bergerak melengkung
ke langit seberang
menebar mantra baru
memikat hati yang menantinya

dan meninggalkanku
bersama gelap semula
menyisakan hasrat yang tak pungkas

harus …
… kuhafalkan keindahannya
yang dua kejap itu
… kukenang sekuat tenaga 
sebelum ia memburam lalu lenyap dari benak
… kulafalkan berulang namanya
supaya kuat bersemayam 
di lubuk hati
… kurekam sebanyak mungkin
tiap berkas yang sempat
hinggap menghangatkan kulitku

sebab …
di momen itu
satu harap dari seratus pinta
untuk terakhir kalinya
rasa memiliki itu berkuasa

ujung dari kebahagiaan singkat
sekerdipan sapuan 
… bintang jatuh


langit mengrenyit pedih disangrai pagi

hingga terbungkuk-bungkuk

merunduk lekat ke bumi

tak kuat menopang tubuhnya

tumbang berdebam berkelung debu

....



berhamburan orang memancar ke segala arah

ketika langit berulekan biru-lembayung-jingga

menghitam zoom in

sebagiannya orang membatu tercekat malang

menanti undangan ke rumah Bapa di Sorga

tanpa appointment



seorang tukang becak cilik

mengayuh cepat menghindar timpa

menyambar serpih runtuhan langit

berhenti setelah selamat

meraih cone es krim putihnya

mengoles langit dipuncaknya

menjadi tudung biru-lembayung-jingga (mirip mirip Wall's Rainbow)

ini es krim pertama

seumur hidupnya



langit jadi hitam

kenapa sih kamu ga tetap mati aja?
daripada menggangguku

kenapa sih tubuhmu yang menganga
kau pamer-pamer?

orang jijik tauk ...
melihat kamu yang terbelah
tak berharga
terhina

tau ga ...

kamu itu tak lebih hinawarnna dari duratma mahadahsyat
kamu itu sudah mati seribu kali

dah ...
sana ... jangan kamu nempelin aku terus
aku ga mau tau kamu lagi koq

lebay ...

ke ge-eran
klo kau mengira orang masih mau mengingatmu

kan sudah kunisankan dirimu
dengan ukiran indah
bertulis "mei 1998"
di atasnya ...

kurang apa lagi?

dasar majnun ...

* Yogyakarta, 16 Mei 2010, 12 tahun setelah angkara itu berlalu

NOTICE

Mohon untuk tidak COPY-PASTE begitu saja karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas pergaulan, bukan?

Please do not COPY-PASTE without the owner consent. Blog is a creative work.


Silahkan klik di sini


Janalokamaya


This blog is created by Leonard C. Epafras.
It meant to be an exotopy of my self. An orifice of unsettled thinkings, reflections, and reports of the ongoing observation of the tiny fraction of the life.
Enjoy