Janalokamaya: A blog by Leonard C. Epafras

mimpi itu bukan sunyi tapi bisu yang kental ● waktu senyap menyekat merintih menyeberangi kata dan tindakan ● waktu tunduk tepekur tiarap menggantung bumi ● tenggelam antara kepenuhan dan jati diri

To Mas ASM, mbak NR, & Mbak IR


(A year ... ago)

Birunya langit tak sangat semarak, tapi menyejukan hati. Arakan awan tak melimpah tapi mampu sudah memupus sekian kati beban yang menekan pundakku selama ini. Merapi kalem sekali sore itu. Tak banyak greget. Tapi aku bahagia menatapnya dari Lt.5 Gedung Pasca. Aku berdiri sendirian di tepi jendela. Gedung ini betul-betul sepi kosong. Benar-benar sendirian aku. Tapi aku senang sekali. Tugas sudah kujalani dengan baik.

Namun sesaat sesudahnya, perlahan ada gelisah yang menyusup.

"Koq lama sekali ya?" "Mereka berdebat apa ini?" "Jangan-jangan ..."
Aku menunggu selama waktu yang lebih dari yang kuduga. Ada perasaan yakin jika tadi yang sudah kupresentasikan telah membuat impresi yang cukup buat mereka ... untuk segera berucap "Lulus." Tapi kenapa lama betul memutuskannya?

Kata Einstein, "lama" itu relatif. Duduk bersama seorang pujaan hati disamping kita, seperempat jam mah terasa luar biasa cepat. Tapi bagi kita yang menanti "vonis" segitu itu luar biasa lamanya.

(120 menit sebelumnya)
"So quick!!" ujarku terperanjat ... benar-benar spontan ucapanku itu! Presentasiku blum ada sepertiganya kusajikan. "Yes, your time is up" seru Prof. Suryo datar. Weleh ... ga menyangka sama sekali kalau aku sudah begitu mengalir omong sana dan sini sampai tiga puluh menit berlalu begitu cepat! Padahal baru sampai Frontier Perspective, perspektif andalanku dalam riset ini. Belum sama sekali menyentuh inti utamanya. Akhirnya kututup Keynote-ku itu. Presentasiku itu kukerjakan selama beberapa hari ... sayang sekali hanya bisa dipamerkan sepertiganya. Padahal animasinya lumayan keren.

(100 menit sebelumnya)
"What do you think about identity? Is it fixed or what? Explain to me!" Wah ini pertanyaan yang mudah sekali. Apalagi soal ini sudah menjadi bayiku sendiri. Kutimang-timang setiap hari. Lancar sekali kujawab.

Tapi lain dengan penguji satunya ini.
"Don't use Roland Barthes... it is a mistake," seorang penguji menegaskan ... "Lah iya toh, kan aku justru mengritik Roland Barthes," pikirku dalam hati. Penguji ini mungkin ga baca disertasiku kali ya.  

"Do agree!" Itu pesan lama yang pernah kudapat dari mantan bossku, waktu aku masih bekerja di sebuah perusahaan. "Do agree with your customer!" alias "Jangan mendebat konsumenmu sendiri." Itu juga jurusku yang kupakai di ujian ini. Kalau sang penguji menanya menggelandang jauh dari isi disertasiku atau mengajukan pertanyaan yang kelihatannya mendasar tapi jelas itu karena dia ga baca benar2 disertasiku, do agree saja lah. Jadi pada salah seorang penguji itu ku jawab "thank you for your suggestion, I will consider it."

(10 menit sebelumnya)
"Is there any better metaphor other than Frontier? ... I don't see it throughout your work ... what I saw is just another center-periphery perspective." Nah lo. Basis penelitianku dipertanyakan. Ini dari pembimbingku sendiri. Sekian menit sebelumnya dia baru saja mengumbar puja dan puji akan betapa bagusnya risetku ini. "I am your student" ujarnya tulus. "I learnt so much from your research", "You set very high standard for the coming dissertation research" imbuhnya lagi sambil menepuk copy-an disertasiku yang setebal bantal.

Nyaris hidungku kembang kempis. Bangga membuncah. Merasa hampir di puncak dunia.

Haha ... tapi untunglah aku sudah tahu kebiasaannya itu. Sesudah pujian biasanya ia baru masuk ke maksud yang sesungguhnya ... evaluasi kritis yang menyeret ku kembali ke dunia nyata, kadang-kadang ke lembah kelam. Kritiknya memaksaku untuk benar-benar berpikir lagi untuk memberi jawaban yang cerdas.

Aku ga jadi besar kepala, hanya takzim mendengar pertanyaan panjangnya itu dan menerimanya sebagai tanzil. Kujawab semuanya dengan ringkas dengan sedikit argumen, dan kuakhiri dengan "I will refine it." (Sesudah ujian kami janjian ketemu untuk memperbaiki perspektifku itu)

(minutes to the verdict)
Mbak Indri keluar, memberi isyarat padaku untuk masuk ke ruang ujian.

Fiuh... akhirnya.

"Are you in a good condition?" Prof. Suryo mengawali sidang keputusan. "Yes I am" jawabnya tenang. Benar-benar tenang, karena seperti sudah tahu keputusannya akan seperti apa, apalagi setelah melirik sedikit ke dua pembimbingku yang sumringah. 

"You are pass, with revision" ... tuh benarkan ... aku lulus, meski harus melakukan revisi. Lalu Prof. Suryo menjabarkan aturan2 ini itu soal revisi ... kapan tanggal penyerahan dan bla bla bla. Aku sudah tahu sebelumnya. 

Aku tersenyum, dan bangkit berdiri menyalami semua orang yang ada di ruangan itu, sambil mengucapkan terima kasih. Aku senang sekali ... :)) ... aku lulus!!!

(info orang dalam: mengapa lama para penguji mengambil keputusan? Rupanya mereka berdebat apakah aku harus diluluskan tanpa revisi atau dengan revisi. Sebagian dari mereka menganggap disertasiku terlalu sedikit yang perlu di revisi, jadi luluskan saja tanpa revisi. Yang lain bilang, sekecil apapun revisi itu harus tetap di anggap revisi. Jadi akhirnya mereka memutuskan aku lulus dengan revisi)

Lima tahun pas, tak lebih dan tak kurang ... peziarahanku ini berakhir. Peziarahan baru siap dijalani.

Sebuah prestasi?? Lima tahun studi mungkin bukan prestasi yang besar... itu sudah wayahnya untuk PhD.

Tapi yang kuyakin saat ini. Lima tahun yang di-gong kemarin sore itu ..
adalah sebuah jawaban doa ... termasuk doa keluargaku dan para sahabatku

terimakasih seribu untuk semua doa itu. pencapaianku ini adalah pencapaian kalian juga. 
Kudoakan untuk keberhasilan studi kalian.

Yogyakarta, 11 Agustus 2012, pas sahur ...

NB.
Utup = Ujian Tertutup


(another favorite poem)



vast, vast sadness

boundless, boundless loss

the song has ended

the moon has been snatched away

in the midst of mournful city

there is a patriot's blood

patriotism is sometimes exhausted

blood sometimes runs dry

but the thread of your fragrant spirit has not been snapped

is it not so?

you have become a butterfly






I am a big big fan of Louis Cha's works. Herewith a poem appears in his work The Book and The Sword, Indonesian version of this wuxia literature is "Puteri Harum dan Kaisar". A really sad story about the romance between Jen Jialuo (Hokkien dialect: Tan Keh Lok) and Kasili (Xiāngfēi), the fragrant princess, the concubine of Ching's Chinese Emperor Qian Long. Kasili was a Muslim from Huei tribe.

(one of my favorite poems)

From IndoPROGRESS

Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa (Wiji Thukul)

aku bukan artis pembuat berita
tapi memang
aku selalu kabar buruk
buat para penguasa

puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap
yang berkeringat
dan berdesakan mencari jalan

ia tak mati-mati
meski bola mataku diganti
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ia tak mati-mati
telah kubayar apa yang dia minta
umur-tenaga-luka

kata-kata itu selalu menagih
padaku ia selalu berkata
:kau masih hidup!
aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa

18 juni 1997


Berikut ini adalah permohonan bantuan dari teman saya Pdt. Yahya Tirta Prewita yang harus transplantasi ginjal dengan biaya kl. Rp 400 juta. Bagi yang tergerak silahkan membantu melalui rekening tersebut di bawah ini. Saya kutipkan dari teman pendeta Darsono Eko Noegroho.
PROPOSAL
TRANSPLANTASI GINJAL PDT. YAHYA TIRTA PREWITA
UNTUK BERSAMA BERBAGI DAN MERAYAKAN KEHIDUPAN

Latar Belakang:
Pdt. Yahya Tirta Prewita adalah pendeta jemaat GKJ Purwantoro, ditahbiskan 9 Desember 1992.
Sejak bulan Maret diketahui sakit gagal ginjal kronis, dari pemeriksaan USG dan rhenogram dan hasil lab berkala, disimpulkan sifatnya tetap dan tak dapat dipulihkan. 
Secara medis, alternatif terapi yang dapat dipilih ada tiga, urutan menunjukkan tindakan medis yang paling disarankan : 
Transplantasi ginjal. 
Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). yaitu proses cuci darah dengan cairan di kantong dalam perut yang bisa dilakukan sendiri tanpa perlu mesin cuci darah seperti yang dilakukan di RS. 
Hemodialisis atau cuci darah dengan mesin di rumah sakit. 

Pertimbangan untuk melakukan transplantasi ginjal:
Keputusan Pdt. Yahya Tirta Prewita yang bersedia melakukan transplantasi ginjal sesudah konsultasi dengan Dr. David dan Egi E. Manuputti di RS PGI Cikini tanggal 25-26 Juni 2013 lalu.
Kondisi psikhis, fisik dan kesehatan organ-organ tubuh yang lain mendukung untuk pelaksanaan transplantasi. 
Sejak tanggal 18 Maret 2013 menjalani hemodialisis dua kali seminggu di RS Bethesda. 
Sudah ada donor organ yang menyediakan diri: Magdalena Kartika Sari, kakak kandung Pdt. Yahya Tirta Prewita tempat tinggal di Solo, atau Imanuel Teja Harjaya, adik kandung, domisili di Bandung. 
Pdt. Yahya Tirta Prewita dengan bantuan saudara-saudara selama sakit ditambah pertanggungan asuransi sudah ada dana Rp 106.000.000 (seratus enam juta rupiah). 
Selain pertimbangan medis, bahwa transplantasi cara terbaik untuk kasus gagal ginjal kronis, secara ekonomis biaya besar yang dikeluarkan saat transplantasi ginjal sama dengan bila dengan hemodialisis dua kali seminggu selama tiga tahun. 
Dan waktu dua kali seminggu selama 6 jam yang diperlukan untuk proses hemodialisis di rumah sakit tidak diperlukan lagi setelah pelaksanaan transplantasi ginjal. 
Perawatan usai transplantasi ginjal jauh lebih mudah dan murah daripada perawatan pasien hemodialisis. 
Pdt. Yahya Tirta Prewita tetap mempunyai dan memelihara semangat hidup dan gairah untuk melayani, ditunjukkan dengan menulis jurnal pasien gagal ginjal yang dipublikasikan lewat internet, dan melakukan pelayanan kependetaan di jemaat. Kumpulan tulisan selama sakit yang pertama dibukukan dan terbit bulan Juli 2013 ini, dan launching buku oleh Pastoral RS Bethesda akan dilakukan bulan Agustus 2013. 
Hari Sabtu 27 Juli 2013 pk 19-21.00 WIB Pdt. Yahya Tirta Prewita dengan sponsor kawan-kawan sejak SMA mengadakan konser tunggal menyanyikan sendiri 25 lagu-lagu karangannya, dan pembacaan beberapa puisinya, dan launching bukunya “WOW HATIKU PENUH NYANYIAN” bertempat di GKJ Danusuman, Jl. Dewi Sartika 37 Surakarta.
Saat ini Pdt. Yahya Tirta Prewita menjadi mahasiswa tingkat doktoral di Indonesian Consortium for Religious Studies (ICSR: UGM, UKDW dan UIN Yogyakarta). Karena keadaan harus mengambil cuti studi. 
Pertimbangan medis, semakin cepat transplantasi ginjal dilakukan, semakin mengurangi resiko yang bertambah karena efek samping hemodialisis yang dilakukan. 
Masih diharapkan karya pelayanan lebih lanjut ke depan bagi Pdt. Yahya Tirta Prewita di tengah-tengah jemaat dan Gereja. 

Transplantasi Ginjal di RS PGI Cikini Jakarta:
Berdasar percakapan dengan Dr. David Manuputti, Zuster Frida, Zuster Purnama, semuanya tenaga medis bagian transplantasi ginjal di RS Cikini PGI, dan informasi dari Bp. Mulyo Prihantono staf pengurus Yayasan RS Cikini, maka perkiraan biaya dan waktu untuk pelaksanaan transplantasi ginjal sebagai berikut: 
Persiapan, pemeriksaan fisik dan kecocokan jaringan organ donor dan resipien. Rp 55 juta 
Bisa dilakukan kapanpun donor dan resipien siap, 1 minggu.
Pelaksanaan transplantasi, biaya dokter, RS, dan obat.Rp 300-an juta
Dua minggu sebelum operasi dijadwalkan, pasien sudah kontrol.
Donor dua hari sebelum operasi dilakukan. 
Biaya obat pasca transplantasi, sampai masa krisis 3 bulan.Rp 30-an juta.
Masa kritis 1 minggu pasca transplantasi, 
dilanjutkan karantina 3 minggu, 
dan sangat dibatasi pertemuan umum s/d 3 bulan.
dengan kontrol intensif dari dokter. 
Biaya transportasi dan akomodasi selama pasien di RS Cikini.Rp 15 juta
Biaya total yang dibutuhkan:Rp 400 juta 
Biaya harus siap saat pasien menjadwalkan pelaksanaan operasi.

Ajakan untuk Bersama Berbagi dan Merayakan Kehidupan:
Proposal ini ditulis sebagai ajakan untuk bersama berbagi dan merayakan kehidupan. Dengan tujuan khusus: 
Menggalang kekurangan dana untuk biaya transplantasi ginjal Pdt. Yahya Tirta Prewita sebesar Rp 300 juta.
Membuat gerakan umat yang bersama berbagi dan merayakan kehidupan dengan: 
Mendoakan Pdt. Yahya Tirta Prewita dan saudara-saudara yang sakit. 
Mengkampanyekan perlunya donor organ, baik donor hidup maupun donor saat mati (ginjal dan kornea) untuk membantu sesama yang membutuhkan.
Mengkampanyekan kesadaran jaminan kesehatan dan kesiapan dana sebagai kebutuhan tiap rumah tangga.
Mengembangkan pastoral untuk sesama yang sedang sakit. 

Oleh karena sejak sakit sampai sekarang Pdt. Yahya Tirta Prewita dirawat di RS Bethesda dan tinggal di kompleks LPP Sinode Samirono Baru 71 Yogyakarta, maka untuk dukungan dana biaya transplantasi ginjal Pdt. Yahya Tirta Prewita mohon dikirim melalui rekening bank LPP Sinode: 
Giro BRI Tiro - Jogja a.n. LPP Sinode GKJ dan GKI Jateng Ac. 0029-01-000409-30-9. 
BCA KCP Gejayan a.n. Sih Hariris, S.H. Ac. 456 501 8044

Demikian proposal ini dibuat, sebagai bentuk solidaritas dan doa dari sesama kolega, dan ajakan untuk bersama berbagi dan merayakan kehidupan.

a/n Kawan-kawan Pendeta
Pdt. Darsono Eko Noegroho, MTh
Pendeta Pelayanan Khusus GKJ di LPP Sinode Yogyakarta

My all-time favorite poem
English translation provided by @harimur


mendekap erat-erat tubuh
valentineku
mempersembahkan lagi
hati ini padanya

sesaat setelah ...
pungkas mendayung awan

... menuju RUMAH

sinkronisasi
narasi hidup
yang
tadinya terbetot-betot
setelah jeda adarma di sana
dan oleh ...
inkoherensi jiwa
yang memeluhkan raga

mendekap erat-erat tubuh

valentineku
menyerap tiap jalar
hangatnya

dan jadi yakin
aku sudah PULANG



June 2013
pojok kebun kayu manis ... moment of believing

lost ...

as I lost

stray ...

me
As go astray
by your disturbing beauty
when you pasturing
in this forest

you looked up
on me
I stunned ... by
calm, plain
paralyzing fairness
and your gaze
that killing

Kush you may have been
hip hipping and concaving
loving and be caressed

why you pay a visit
in this conclave
in this forest?

so haunted ...
so confused ...
by the mixed sensation
in the air
you capsulated

throw away ...
thrown away ...
castrating my soul
to find
a safe exit
from this
enchanted forest



June 2013
The Forest, climax of the nocturnal climb




sepotong pendar
sepi digerogoti hening
bayang dipatri biasnya

kilau sinar
mendayu lembut

membubuh embun nokturnal
memoles tubuh persada
yang garing diantup kemarau

segar...
memayu batin
merayu hati
menyambut beskara

saatnya
dies novus ...

pojok kebun kayumanis, Mayday 2013




menyusur ...
menyisik peluh
memilin temberang hidup

bertanya:


Jika hati tegak megah berdiri
Adakah ruang untuk menambahkannya?
Bisakah aku menggantung ornament
untuk sekedar mempertajam aroma keindahannya?

Jika dinding bagur terbangun
adakah celah untuk menitip
hati yang mencinta ini?

Jika pagar melingkup berhektar-hektar jengkal
adakah tempat bagi jiwaku
untuk memburuh padanya


Mampukah menyintas?
adakah kutemukan sinyal kuat
yang menandai jalan
... yang dimengerti semua orang?


Pojok Kebun Kayumanis, post-nocturnal



menanti
saat keberangkatan

menyaksikan ...

orang-orang
berdiri di gerbang tunggu
urut
seperti kolom-kolom
pada rumah
bergaya romawi
dalam deret yang discrete
ebony and ivory ...
seakan tercipta tak sinambung

mahasiswi oriental
duduk membisu
kebas terhadap sekeliling
telinga
disumbat alat anti-bising
earphone iPod
menyebelah
seorang kulit putih berjas berdasi
yang takzim menatap
halaman paperback di tangan
tampak aura kedap air
mengapsul di sekelilingnya

di depanku
seorang perempuan
cantik
berbaju biru
berjilbab
menggigit bibir
bahagia ...
lepas dari beban berat?

bersliweran
anak kecil
menggoda sana sini
membuat gopoh ibunya
yang tak ramping lagi
susah payah menggiringnya
tergurat lelah di wajah
apakah karena
mendapat anak
di usia tua?

seorang pria
"natural tan"*
mendekat
wangi tubuh menyengat
berujar ini itu
dengan raut mendesak
"aku sudah enam hari tak makan"
tanganku pias seketika
kuraih sebatang granola bar**
kuberikan padanya
dikupas dan dikunyahnya tanpa ucap
kutinggal ia tanpa pamit
dengan rasa sulit
harus berhadapan langsung
pada distilasi
konfigurasi sosial

ku takut
ku lari menghindar ...

richmond, virginia 2009


* natural tan = kulit hitam (African-American), seperti yg diinformasikan padaku oleh Al Manthis, supir taksi dan guide di Richmond, Virginia
** granola bar = sereal berbentuk biskuit berbahan dasar gandum dengan berbagai campuran seperti madu, buah2an kering

kita tiba di tubir sempadan

lapat-lapat tampak horizon
di sana ada sinar mengambang
paradoksal ...
bertingkah di antara guram dan cerah
menampilkan pemandangan yang sayu menindih hati
sekaligus indah
menjanjikan pemenuhan cita-cita

sebuah negeri yang berjarak dari keduniawian
berdiang sinambung antar kasunyatan dan anggitan

di sempadan kita bak muhajir
yang menyeret-nyeret pengalamannya
hendak memobilisasinya menjadi sesuatu yang ditebus

di perhentian ini
kita menghela napas
... menjajaki
seberapa ripuh hidup ini sebelumnya
mengukur spidometer dan kilometer yang tlah ditempuh
menengok ke belakang lewat kaca spion

di situ ada lekuk lintasan yang ditekuk oleh
tangan yang penuh kuasa




bangkit ...
menguatkan hati
menelan nyali singa
maju dengan penuh iman
berjalan berendeng pundak
bersama para sahabat ...


14/11/2012
pojok belakang kebon kayu manis
dipersembahkan pada Mas. M dan Mbak V. dan semua Nopembris


Ada tiga orang sahabat melakukan perjalanan jauh bersama. Orang yang pertama berprofesi sebagai pengrajin kayu, yang kedua tukang jahit, dan yang ketiga adalah seorang pendeta. Di tengah jalan mereka bermalam di sebuah hutan dan sepakat untuk saling bergantian berjaga-jaga. Yang dapat giliran pertama berjaga adalah si pengrajin kayu.
Di awal jam berjaganya ia merasa sangat bosan karena hanya bengong saja tidak melakukan apa2. Lalu ia melihat seonggok kayu besar, dan karena suasana hening di malam hari ia mendapatkan inspirasi untuk menghasilkan karya seni. Lalu diukirnya kayu itu menjadi sebuah patung seukuran manusia berbentuk seorang perempuan. Karena yang dibayangkan dibenaknya adalah wajah Zizi (Zivanna Letisha), maka jadilah patung itu bahkan lebih cantik dari Zizi. Setelah selesai membuatnya, saatnya tiba untuk pergantian tugas jaga. Sang pengrajin kayu membangunkan temannya si tukang jahit untuk menggantikan tugasnya.
Si tukang jahit bangun sambil mengucek-ucek matanya yang masih berat. Ucekan matanya yang masih ngantuk berubah menjadi ucekan mata tak percaya bercampur terpesona ketika ia melihat patung kayu hasil karya temannya, si pengrajin kayu. Ia merasa patung itu seperti manusia sungguhan. Sebagai bagian dari keterpesonaannya itu, ia segera mengambil alat-alat jahit dan selembar kain. Semalaman ia bekerja keras membuat gaun yang sangat indah untuk si patung perempuan itu. Setelah selesai ia kenakanlah gaun itu pada si patung dan mematut-matutkannya. Ia sangat puas dengan hasil karyanya dan baru sadar bahwa jam tugasnya telah berlalu.
Ia segera membangunkan temannya si pendeta untuk menggantikannya. Sama seperti temannya yang lain, si pendeta segera terpesona dengan kecantikan sang patung. Ia mengira masih ada di alam mimpi dan sedang dikunjungi oleh bidadari. Namun setelah ia mengamati patung itu lebih dekat, ia segera menemukan kekurangan dari patung itu. Tiada kehidupan di rongga matanya. Si pendeta ini, yang adalah seorang yang saleh segera memanjatkan doa, memohon kepada Tuhan agar patung cantik di hadapannya diberi nafas kehidupan. Tuhan lalu menjawab doa itu dengan memberikan nafas kehidupan kepada patung itu. Sang patung itu mulai membuka matanya, mengejap-ejapkan untuk menyesuaikan diri dengan pemandangan dunianya yang baru.
Kecantikan perempuan yang baru “diciptakan” ini semakin memancar sejalan dengan terbitnya fajar pagi di ufuk timur. Sementara sang pendeta masih terpesona dengan “jawaban” doanya, kedua temannya, si pengrajin kayu dan tukang jahit bangun dari tidur mereka. Seperti bisa diduga, ketiga orang laki-laki ini segera mengklaim kepemilikan atas perempuan cantik di hadapan mereka. “Aku yang punya inisiatif membuat patung ini, jadi dia adalah milikku,” seru si pengrajin kayu. “Ga bisa, patungmu hanya benda mati tanpa keindahan, jika aku tidak memberikan gaun yang indah padanya … jadi aku lebih berhak memilikinya daripadamu,” sahut si tukang jahit. “Maaf teman-temanku, sekalipun engkau telah membuatkan patung yang indah, dan engkau membuatkan gaun yang indah untuk mempercantiknya, ia tetaplah benda mati. Aku yang memohon pada Tuhan agar patung ini diberikan kehidupan, jadi akulah yang paling berhak untuk mendapatkannya,” jawab sang pendeta dengan kalemnya.
Menurut Anda siapakah yang paling berhak?

NOTICE

Mohon untuk tidak COPY-PASTE begitu saja karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas pergaulan, bukan?

Please do not COPY-PASTE without the owner consent. Blog is a creative work.


Silahkan klik di sini


Janalokamaya


This blog is created by Leonard C. Epafras.
It meant to be an exotopy of my self. An orifice of unsettled thinkings, reflections, and reports of the ongoing observation of the tiny fraction of the life.
Enjoy