(A year ... ago)
Birunya langit tak sangat semarak, tapi menyejukan hati. Arakan awan tak melimpah tapi mampu sudah memupus sekian kati beban yang menekan pundakku selama ini. Merapi kalem sekali sore itu. Tak banyak greget. Tapi aku bahagia menatapnya dari Lt.5 Gedung Pasca. Aku berdiri sendirian di tepi jendela. Gedung ini betul-betul sepi kosong. Benar-benar sendirian aku. Tapi aku senang sekali. Tugas sudah kujalani dengan baik.
Namun sesaat sesudahnya, perlahan ada gelisah yang menyusup.
"Koq lama sekali ya?" "Mereka berdebat apa ini?" "Jangan-jangan ..."
Aku menunggu selama waktu yang lebih dari yang kuduga. Ada perasaan yakin jika tadi yang sudah kupresentasikan telah membuat impresi yang cukup buat mereka ... untuk segera berucap "Lulus." Tapi kenapa lama betul memutuskannya?
Kata Einstein, "lama" itu relatif. Duduk bersama seorang pujaan hati disamping kita, seperempat jam mah terasa luar biasa cepat. Tapi bagi kita yang menanti "vonis" segitu itu luar biasa lamanya.
(120 menit sebelumnya)
"So quick!!" ujarku terperanjat ... benar-benar spontan ucapanku itu! Presentasiku blum ada sepertiganya kusajikan. "Yes, your time is up" seru Prof. Suryo datar. Weleh ... ga menyangka sama sekali kalau aku sudah begitu mengalir omong sana dan sini sampai tiga puluh menit berlalu begitu cepat! Padahal baru sampai Frontier Perspective, perspektif andalanku dalam riset ini. Belum sama sekali menyentuh inti utamanya. Akhirnya kututup Keynote-ku itu. Presentasiku itu kukerjakan selama beberapa hari ... sayang sekali hanya bisa dipamerkan sepertiganya. Padahal animasinya lumayan keren.
(100 menit sebelumnya)
"What do you think about identity? Is it fixed or what? Explain to me!" Wah ini pertanyaan yang mudah sekali. Apalagi soal ini sudah menjadi bayiku sendiri. Kutimang-timang setiap hari. Lancar sekali kujawab.
Tapi lain dengan penguji satunya ini.
"Don't use Roland Barthes... it is a mistake," seorang penguji menegaskan ... "Lah iya toh, kan aku justru mengritik Roland Barthes," pikirku dalam hati. Penguji ini mungkin ga baca disertasiku kali ya.
"Do agree!" Itu pesan lama yang pernah kudapat dari mantan bossku, waktu aku masih bekerja di sebuah perusahaan. "Do agree with your customer!" alias "Jangan mendebat konsumenmu sendiri." Itu juga jurusku yang kupakai di ujian ini. Kalau sang penguji menanya menggelandang jauh dari isi disertasiku atau mengajukan pertanyaan yang kelihatannya mendasar tapi jelas itu karena dia ga baca benar2 disertasiku, do agree saja lah. Jadi pada salah seorang penguji itu ku jawab "thank you for your suggestion, I will consider it."
(10 menit sebelumnya)
"Is there any better metaphor other than Frontier? ... I don't see it throughout your work ... what I saw is just another center-periphery perspective." Nah lo. Basis penelitianku dipertanyakan. Ini dari pembimbingku sendiri. Sekian menit sebelumnya dia baru saja mengumbar puja dan puji akan betapa bagusnya risetku ini. "I am your student" ujarnya tulus. "I learnt so much from your research", "You set very high standard for the coming dissertation research" imbuhnya lagi sambil menepuk copy-an disertasiku yang setebal bantal.
Nyaris hidungku kembang kempis. Bangga membuncah. Merasa hampir di puncak dunia.
Haha ... tapi untunglah aku sudah tahu kebiasaannya itu. Sesudah pujian biasanya ia baru masuk ke maksud yang sesungguhnya ... evaluasi kritis yang menyeret ku kembali ke dunia nyata, kadang-kadang ke lembah kelam. Kritiknya memaksaku untuk benar-benar berpikir lagi untuk memberi jawaban yang cerdas.
Aku ga jadi besar kepala, hanya takzim mendengar pertanyaan panjangnya itu dan menerimanya sebagai tanzil. Kujawab semuanya dengan ringkas dengan sedikit argumen, dan kuakhiri dengan "I will refine it." (Sesudah ujian kami janjian ketemu untuk memperbaiki perspektifku itu)
(minutes to the verdict)
Mbak Indri keluar, memberi isyarat padaku untuk masuk ke ruang ujian.
Fiuh... akhirnya.
"Are you in a good condition?" Prof. Suryo mengawali sidang keputusan. "Yes I am" jawabnya tenang. Benar-benar tenang, karena seperti sudah tahu keputusannya akan seperti apa, apalagi setelah melirik sedikit ke dua pembimbingku yang sumringah.
"You are pass, with revision" ... tuh benarkan ... aku lulus, meski harus melakukan revisi. Lalu Prof. Suryo menjabarkan aturan2 ini itu soal revisi ... kapan tanggal penyerahan dan bla bla bla. Aku sudah tahu sebelumnya.
Aku tersenyum, dan bangkit berdiri menyalami semua orang yang ada di ruangan itu, sambil mengucapkan terima kasih. Aku senang sekali ... :)) ... aku lulus!!!
(info orang dalam: mengapa lama para penguji mengambil keputusan? Rupanya mereka berdebat apakah aku harus diluluskan tanpa revisi atau dengan revisi. Sebagian dari mereka menganggap disertasiku terlalu sedikit yang perlu di revisi, jadi luluskan saja tanpa revisi. Yang lain bilang, sekecil apapun revisi itu harus tetap di anggap revisi. Jadi akhirnya mereka memutuskan aku lulus dengan revisi)
Lima tahun pas, tak lebih dan tak kurang ... peziarahanku ini berakhir. Peziarahan baru siap dijalani.
Sebuah prestasi?? Lima tahun studi mungkin bukan prestasi yang besar... itu sudah wayahnya untuk PhD.
Tapi yang kuyakin saat ini. Lima tahun yang di-gong kemarin sore itu ..
adalah sebuah jawaban doa ... termasuk doa keluargaku dan para sahabatku
terimakasih seribu untuk semua doa itu. pencapaianku ini adalah pencapaian kalian juga.
Kudoakan untuk keberhasilan studi kalian.
Yogyakarta, 11 Agustus 2012, pas sahur ...
NB.
Utup = Ujian Tertutup
Posted by
Leo Epafras
comments (0)
