Janalokamaya: A blog by Leonard C. Epafras

mimpi itu bukan sunyi tapi bisu yang kental ● waktu senyap menyekat merintih menyeberangi kata dan tindakan ● waktu tunduk tepekur tiarap menggantung bumi ● tenggelam antara kepenuhan dan jati diri

menanti
saat keberangkatan

menyaksikan ...

orang-orang
berdiri di gerbang tunggu
urut
seperti kolom-kolom
pada rumah
bergaya romawi
dalam deret yang discrete
ebony and ivory ...
seakan tercipta tak sinambung

mahasiswi oriental
duduk membisu
kebas terhadap sekeliling
telinga
disumbat alat anti-bising
earphone iPod
menyebelah
seorang kulit putih berjas berdasi
yang takzim menatap
halaman paperback di tangan
tampak aura kedap air
mengapsul di sekelilingnya

di depanku
seorang perempuan
cantik
berbaju biru
berjilbab
menggigit bibir
bahagia ...
lepas dari beban berat?

bersliweran
anak kecil
menggoda sana sini
membuat gopoh ibunya
yang tak ramping lagi
susah payah menggiringnya
tergurat lelah di wajah
apakah karena
mendapat anak
di usia tua?

seorang pria
"natural tan"*
mendekat
wangi tubuh menyengat
berujar ini itu
dengan raut mendesak
"aku sudah enam hari tak makan"
tanganku pias seketika
kuraih sebatang granola bar**
kuberikan padanya
dikupas dan dikunyahnya tanpa ucap
kutinggal ia tanpa pamit
dengan rasa sulit
harus berhadapan langsung
pada distilasi
konfigurasi sosial

ku takut
ku lari menghindar ...

richmond, virginia 2009


* natural tan = kulit hitam (African-American), seperti yg diinformasikan padaku oleh Al Manthis, supir taksi dan guide di Richmond, Virginia
** granola bar = sereal berbentuk biskuit berbahan dasar gandum dengan berbagai campuran seperti madu, buah2an kering

kita tiba di tubir sempadan

lapat-lapat tampak horizon
di sana ada sinar mengambang
paradoksal ...
bertingkah di antara guram dan cerah
menampilkan pemandangan yang sayu menindih hati
sekaligus indah
menjanjikan pemenuhan cita-cita

sebuah negeri yang berjarak dari keduniawian
berdiang sinambung antar kasunyatan dan anggitan

di sempadan kita bak muhajir
yang menyeret-nyeret pengalamannya
hendak memobilisasinya menjadi sesuatu yang ditebus

di perhentian ini
kita menghela napas
... menjajaki
seberapa ripuh hidup ini sebelumnya
mengukur spidometer dan kilometer yang tlah ditempuh
menengok ke belakang lewat kaca spion

di situ ada lekuk lintasan yang ditekuk oleh
tangan yang penuh kuasa




bangkit ...
menguatkan hati
menelan nyali singa
maju dengan penuh iman
berjalan berendeng pundak
bersama para sahabat ...


14/11/2012
pojok belakang kebon kayu manis
dipersembahkan pada Mas. M dan Mbak V. dan semua Nopembris

NOTICE

Mohon untuk tidak COPY-PASTE begitu saja karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas pergaulan, bukan?

Please do not COPY-PASTE without the owner consent. Blog is a creative work.


Silahkan klik di sini


Janalokamaya


This blog is created by Leonard C. Epafras.
It meant to be an exotopy of my self. An orifice of unsettled thinkings, reflections, and reports of the ongoing observation of the tiny fraction of the life.
Enjoy