Janalokamaya: A blog by Leonard C. Epafras

mimpi itu bukan sunyi tapi bisu yang kental ● waktu senyap menyekat merintih menyeberangi kata dan tindakan ● waktu tunduk tepekur tiarap menggantung bumi ● tenggelam antara kepenuhan dan jati diri

di lapak dinda tersaji
seandai azimat tuah berkalimat

di lapak tersedia hati
yang merah ranum membujuk
dinda menyungging senyum
seraya membagi segenggamnya
… untukku

memukat hati yang pekat
lalu
berselisih jalan

terkuntit dan terburu
oleh penguntit dan pemburu
yang tercipta dalam perlamunan

terendam pada
kubangan yang memekar
melebar dan mendalam

terjebak oleh bayang
tak mampu bedakan alam manusia dan alam para dewa
kenyataan kini dan khayal di sana

terkungkung di kolam
kebahagiaan
yang dipoles sendiri

terbelit raga
oleh sulur-sulur
yang disianginya

terkuak
cinta terdalam
dan derita mutakhir
harap mencapai bulan
dengan seribu sandal tertumpuk ke langit

aku sungguh
ingin pulang …


durham, awal 2009

Tidurku merangkum
dan meringkaskan
seluruh kesudahan, kekinian, dan keakanan
yang mengental dalam diri

disimpul itulah
aku berjumpa dengan … papiku

Melelap tidurku
setelah diyakinkan
akan ambang tak tersebrangi
antara ranah lelap dan terjaga
… setelah itu
aku [berani] bangun

** dear daddy, may a blessed memory upon you ... juga utk Pak TH (alm)

di hadapanNYA ...
aku tak berdiri di terang maupun gelap
kulantunkan padaNYA
doa doa tak berpendirian
kutawarkan niat yang tak dapat ditagih
dan hati yang mendua

kubuat pointilisme
untuk menyatu keping kelam
dan cerah
supaya dikira putih
hingga tercipta ilusi kesucian
dan kenyataan yang
sebenarnya
pecah jika di zoom-in

sebab kutawarkan cinta
yang tak mungkin
dari bayang gelap

di sana
tak kuasa menyebut nama
yang lirih sekalipun

sebab ...
bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

jadi
sebut saja aku
... abu-abu

sepasang piring nasi goreng
beronggok berhadapan
coklat lebam
keras kepala
laiknya obskurantis
ortodoks
mencabik
telor mata sapi
... setengah matang
yang
terpecah bernanah kuning

menggigit
tomat
yang masih merintih
perih akan pedihnya
teriris
manakala
serpih-serpih daging
tertangkap basah
di antara bulir-bulir
meski mereka
masih berkilah
dari masa lalunya

kulahap porsiku
bersamamu
sebagai isyarat
persekutuan
dan
kenangan
akan cinta
yang lancang

menyusut
segenap kilau
setelah
semua porak poranda
dan menyisa
slilit ...

sebutir nasi
melekat di bibirmu
kuusap
tandas …
dengan bibirku


hujan
datang
memberi diri penuh
menggurah debu
menggurat aspal
bermaksud
mengantar kembali
hati yang kembara

derai
hiruk pikuk
menderam memaksa
tapi tak jua
ia mampu
menyungkup jiwa
yang kering melepuh



anak manusia (sebuah picto-poem)
menyusur
jalur putih
mengilas ngilas
berkelebat kelebat

efek dopler
menarikan
frekuensi aural

melambat
di tikungan
lalu ...

sebuah epifani
menyergap
terserap dalam benak
dalam kecepatan super singkat

membisikan
"anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalanya"

tak tahu ...
nek-kah aku?
atau biasa saja

At a junction in the Triangle Area, North Carolina. thanks to Mas Oka for the photograph

NOTICE

Mohon untuk tidak COPY-PASTE begitu saja karena BLOG JUGA ADALAH HASIL KARYA CIPTA. Biasakan untuk meminta ijin kepada pemilik karya atau paling tidak menyebutkan sumber asal. Hitung-hitung bersilaturahmi dan memperluas pergaulan, bukan?

Please do not COPY-PASTE without the owner consent. Blog is a creative work.


Silahkan klik di sini


Janalokamaya


This blog is created by Leonard C. Epafras.
It meant to be an exotopy of my self. An orifice of unsettled thinkings, reflections, and reports of the ongoing observation of the tiny fraction of the life.
Enjoy