Ada tiga orang sahabat melakukan perjalanan jauh bersama. Orang yang pertama berprofesi sebagai pengrajin kayu, yang kedua tukang jahit, dan yang ketiga adalah seorang pendeta. Di tengah jalan mereka bermalam di sebuah hutan dan sepakat untuk saling bergantian berjaga-jaga. Yang dapat giliran pertama berjaga adalah si pengrajin kayu.
Di awal jam berjaganya ia merasa sangat bosan karena hanya bengong saja tidak melakukan apa2. Lalu ia melihat seonggok kayu besar, dan karena suasana hening di malam hari ia mendapatkan inspirasi untuk menghasilkan karya seni. Lalu diukirnya kayu itu menjadi sebuah patung seukuran manusia berbentuk seorang perempuan. Karena yang dibayangkan dibenaknya adalah wajah Zizi (Zivanna Letisha), maka jadilah patung itu bahkan lebih cantik dari Zizi. Setelah selesai membuatnya, saatnya tiba untuk pergantian tugas jaga. Sang pengrajin kayu membangunkan temannya si tukang jahit untuk menggantikan tugasnya.
Si tukang jahit bangun sambil mengucek-ucek matanya yang masih berat. Ucekan matanya yang masih ngantuk berubah menjadi ucekan mata tak percaya bercampur terpesona ketika ia melihat patung kayu hasil karya temannya, si pengrajin kayu. Ia merasa patung itu seperti manusia sungguhan. Sebagai bagian dari keterpesonaannya itu, ia segera mengambil alat-alat jahit dan selembar kain. Semalaman ia bekerja keras membuat gaun yang sangat indah untuk si patung perempuan itu. Setelah selesai ia kenakanlah gaun itu pada si patung dan mematut-matutkannya. Ia sangat puas dengan hasil karyanya dan baru sadar bahwa jam tugasnya telah berlalu.
Ia segera membangunkan temannya si pendeta untuk menggantikannya. Sama seperti temannya yang lain, si pendeta segera terpesona dengan kecantikan sang patung. Ia mengira masih ada di alam mimpi dan sedang dikunjungi oleh bidadari. Namun setelah ia mengamati patung itu lebih dekat, ia segera menemukan kekurangan dari patung itu. Tiada kehidupan di rongga matanya. Si pendeta ini, yang adalah seorang yang saleh segera memanjatkan doa, memohon kepada Tuhan agar patung cantik di hadapannya diberi nafas kehidupan. Tuhan lalu menjawab doa itu dengan memberikan nafas kehidupan kepada patung itu. Sang patung itu mulai membuka matanya, mengejap-ejapkan untuk menyesuaikan diri dengan pemandangan dunianya yang baru.
Kecantikan perempuan yang baru “diciptakan” ini semakin memancar sejalan dengan terbitnya fajar pagi di ufuk timur. Sementara sang pendeta masih terpesona dengan “jawaban” doanya, kedua temannya, si pengrajin kayu dan tukang jahit bangun dari tidur mereka. Seperti bisa diduga, ketiga orang laki-laki ini segera mengklaim kepemilikan atas perempuan cantik di hadapan mereka. “Aku yang punya inisiatif membuat patung ini, jadi dia adalah milikku,” seru si pengrajin kayu. “Ga bisa, patungmu hanya benda mati tanpa keindahan, jika aku tidak memberikan gaun yang indah padanya … jadi aku lebih berhak memilikinya daripadamu,” sahut si tukang jahit. “Maaf teman-temanku, sekalipun engkau telah membuatkan patung yang indah, dan engkau membuatkan gaun yang indah untuk mempercantiknya, ia tetaplah benda mati. Aku yang memohon pada Tuhan agar patung ini diberikan kehidupan, jadi akulah yang paling berhak untuk mendapatkannya,” jawab sang pendeta dengan kalemnya.
Menurut Anda siapakah yang paling berhak?

