CLYTIE
ketika sekuntum helianthus
kepincut pada baskara
meluku hatinya
tergolek merekah
rindu
yang ditangkarnya
tunduk bersimpuh tak tertanggungkan
durkarma
menyusup dalam
melukai batinnya
tak mampu
melarikan diri
berletih letih ia
merangkum mandala
sejauh laksa
toh ... tak sampai jua
STRUCTURALISM TURN
sejak sekuntum helianthus
kepincut pada baskara
kisah hidupnya sgra tertutur sejak dirinya mengada
tertebak sudah semua bahagia
terperi semua sedih
terpatri segala aib
terbagi episode tanpa banyak tanya
dalam kebenaran yang distabilo
mencolok merah jambu
lalu baskara menyuruk di balik cakrawala
menghela satin jingga
PROMETHEAN PAIN
dan genitnya pelangi malam ketika menyingsing
menyongsong menerka temaram pagi yang sepertinya beranjak lebih pelan
memunahkan rekatannya hampir sia-sia
semua derita
rewind
dalam kebengisan
yang paling murni
helianthus kepincut lagi ...
Saya tersentak ketika membaca berita disebuah situs berita online, bahwa gempa Padang yang baru saja terjadi kemarin di setarakan dengan gempa Yogya 2006. Pagi ini (ketika saya menulis) disebutkan gempa ini bahkan lebih dahsyat dari gempa Yogya dengan perkiraan korban akan sama dengan di Yogya. Keterhubungan yang menyentuh emosi ini memberi “nilai tambah” bagi saya serta mendorong saya untuk menulis artikel ini. Sebab tentu saja ada banyak gempa yang terjadi, dari yang tanpa banyak korban hingga yang serius seperti gempa Cianjur diawal bulan lalu. Kita memang hidup di dunia yang tidak aman dan semakin tidak aman.
Peristiwa gempa tiga tahun lalu masih tergores kuat di ingatan. Sampai hari ini warisan gempa itu masih nyata bagi keluarga kami, sebab baru bulan lalu kami mampu menyelesaikan pemasangan eternit di langit-langit rumah. Ketika gempa terjadi di bulan Mei 2006, rumah yang baru kami beli seketika tak beratap dan sebagian dinding roboh. Butuh tiga tahun untuk “pemulihan” fisik, tapi ingatan itu membekas lama sekali. Tiap kali ada getar sedikit saja, entah karena ada truk lewat, atau kasur dipan yang berderit, langsung pikiran ini connect “ada gempa?”
Bersamaan dengan peristiwa ini, di tengah sibuk dengan berbagai urusan dan paper, peristiwa bencana akhir-akhir ini membangkitkan saya akan gagasan hosana sebagai ekspresi permohonan pertolongan keselamatan dari Tuhan. Pikiran ini sudah muncul sejak tahun lalu ketika saya mengajar Ibrani Dasar, dan harus menerangkan bentuk kata kerja imperative (perintah), cohortative (memberi dukungan), dan jussive (permohonan). Ketika itu contoh kata yang saya berikan adalah hosana (hosha nah, atau variasinya hoshia nah) yang artinya “selamatkanlah!” atau “mohon (dengan sangat untuk) diselamatkan.” Setelah mengajar, saya jadi termenung-menung menyadari bahwa selama ini hosana saya mengerti sebagai bagian dari puji-pujian pada keselamatan Tuhan melalui Yesus Kristus. Saya yakin banyak orang Kristen yang juga memahaminya demikian. Apalagi dalam liturgi gereja, ungkapan ini disenandungkan pada minggu sengsara menjelang perayaan Paskah. Tetapi justru makna Ibraninya sangat mengganggu. “[Tuhan] selamatkanlah [kami]!!” Lho, mengapa justru isinya miris seperti itu. Jika ungkapan populer “Tuhan kasihanilah kami,” istilah kerennya yang berasal dari tradisi gereja Timur, kyrie eleison dihubungkan dengan keadaan berdosa kita (lih. Lukas 18:13), sebaliknya selama ini hosana sering didengungkan dengan percaya diri dan gembira karena keselamatan itu telah datang. Tetapi bagaimana gambaran hosana yang lain? Sejauh yang saya tahu penggunaan kata ini paling mengesankan dalam film Moses, the Prince of Egypt dalam versi Ibraninya. Pada lagu latar dalam penggambaran penderitaan bangsa Israel ada seruan “deliver us” (bebaskan kami), dalam bahasa Ibraninya adalah “hoshia nah.” Jelas sekali ada citra berbeda dari yang selama ini saya mengerti dalam tradisi Kristen.
Kata “hosana” yang berkonotasi kegembiraan akan keTuhanan dan keMesiasan Yesus tampaknya sukar dihapus di benak kita. Sejak saya kecil hingga saat ini, kata itu dihayati sebagai ungkapan hormat “kebangsawanan” terhadap Yesus. Gambaran mental yang sangat hidup adalah Yesus yang dielu-elukan sebagai raja ketika masuk ke Yerusalem di mana kerumunan orang dengan gembira menyambutnya dengan daun palm.
Kata hosana muncul 5 kali di Perjanjian Baru. Teks itu bisa dibaca selain sebagai ungkapan rohani akan pertolongan Tuhan melalui kehadiran Mesias (Yesus), ia juga dapat dibaca sebagai provokasi terhadap struktur yang menindas. “Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!,” menurut teks Matius 21:9. Jelaslah harapan para kerumunan itu ketika Yesus masuk ke Yerusalem adalah kelepasan dari penindasan kekuasaan yang menindas (Romawi dan kroni-kroninya) melalui seruan minta tolong kepada “Anak Daud,” mendahului seruan minta tolong kepada Tuhan! Ini adalah seruan yang sangat peka terhadap persoalan nyata hidup ini. Seruan kepada Anak Daud bukanlah semata seruan agar jiwa diselamatkan, tetapi agar terjadi pembebasan dari penindasan.
Saat ini ada banyak gedung dan fasilitas gereja yang diberi nama Hosana. Ada juga perusahaan rekaman yang bernama Hosana. Saya menduga bahwa penamaan itu adalah bagian dari ekspresi pemujaan kepada Yesus. Sebagai ungkapan syukur atas keselamatan yang dianugerahkan melalui karyaNya. Bisa jadi tak terlintas oleh inisiator nama-nama itu bahwa hosana justru pada dasarnya adalah seruan minta tolong dari kesesakan hidup.
Mazmur 118:25 memberikan gambaran yang baik soal ini.
Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! (‘anna’ YHWH hoshi’ah nah)
Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! (‘anna’ YHWH hitslikhah nah)
“Keselamatan” dihubungkan dengan “kemujuran.” Jadi keselamatan bukan melulu soal rohani dan keselamatan jiwa, tetapi juga kemujuran hidup, yaitu terbebasnya dari tekanan hidup.
Hosana bukan lagi semata ungkap puja dan puji bagi Tuhan semata, tetapi ia jelas merupakan metafora kehidupan manusia di dunia yang penuh bahaya. Hosana merupakan distilasi rasa perih sekaligus rengekan agar Tuhan turut campur dalam penderitaan manusia. Penekanan hosana semata sebagai puncak kebahagiaan manusia atas kemuliaan Tuhan akan menjadi sinisme di tengah penderitaan dunia.
Suasana Paskah tahun ini sudah lama berlalu, tapi jeritan hosana terus menerus bergema di mana-mana, oleh banyak orang. Hosana adalah seruan orang yang tertindas, tidak terbatas oleh komunitas agama tertentu, kalangan tertentu. Ketertindasan oleh bencana nyata di tengah kita. Episode terakhirnya adalah seruan hosana dari Padang.
Jadi mari kita tolong mereka!
oleh penguntit dan pemburu
yang tercipta dalam perlamunan
terendam pada
kubangan yang memekar
melebar dan mendalam
terjebak oleh bayang
tak mampu bedakan alam manusia dan alam para dewa
kenyataan kini dan khayal di sana
terkungkung di kolam
kebahagiaan
yang dipoles sendiri
terbelit raga
oleh sulur-sulur
yang disianginya
terkuak
cinta terdalam
dan derita mutakhir
harap mencapai bulan
dengan seribu sandal tertumpuk ke langit
aku sungguh
ingin pulang …
durham, awal 2009
Tidurku merangkum
dan meringkaskan
seluruh kesudahan, kekinian, dan keakanan
yang mengental dalam diri
disimpul itulah
aku berjumpa dengan … papiku
Melelap tidurku
setelah diyakinkan
akan ambang tak tersebrangi
antara ranah lelap dan terjaga
… setelah itu
aku [berani] bangun
** dear daddy, may a blessed memory upon you ... juga utk Pak TH (alm)
di hadapanNYA ...
aku tak berdiri di terang maupun gelap
kulantunkan padaNYA
doa doa tak berpendirian
kutawarkan niat yang tak dapat ditagih
dan hati yang mendua
kubuat pointilisme
untuk menyatu keping kelam
dan cerah
supaya dikira putih
hingga tercipta ilusi kesucian
dan kenyataan yang
sebenarnya
pecah jika di zoom-in
sebab kutawarkan cinta
yang tak mungkin
dari bayang gelap
di sana
tak kuasa menyebut nama
yang lirih sekalipun
sebab ...
bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?
jadi
sebut saja aku
... abu-abu
beronggok berhadapan
coklat lebam
keras kepala
laiknya obskurantis
ortodoks
mencabik
telor mata sapi
... setengah matang
yang
terpecah bernanah kuning
menggigit
tomat
yang masih merintih
perih akan pedihnya
teriris
manakala
serpih-serpih daging
tertangkap basah
di antara bulir-bulir
meski mereka
masih berkilah
dari masa lalunya
kulahap porsiku
bersamamu
sebagai isyarat
persekutuan
dan
kenangan
akan cinta
yang lancang
menyusut
segenap kilau
setelah
semua porak poranda
dan menyisa
slilit ...
sebutir nasi
melekat di bibirmu
kuusap
tandas …
dengan bibirku
jalur putih
mengilas ngilas
berkelebat kelebat
efek dopler
menarikan
frekuensi aural
melambat
di tikungan
lalu ...
sebuah epifani
menyergap
terserap dalam benak
dalam kecepatan super singkat
membisikan
"anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalanya"
tak tahu ...
nek-kah aku?
atau biasa saja
berpisah itu seperti meregang nyawa
seperti merelakan bayangan diri
seperti berganti jubah
berdiang ...
diri dilepas secara eceran
sebagai communitarian
tak berkuasa penuh
aku pergi jauh
tapi jiwa tidak
aku mengelana ke negeri seberang
tapi jiwa berkelung di negeri sendiri
Durham, February 2009
December 2008
kenangan merayap
menjajah nalar
mencubit hati
... sedikit demi sedikit
tubuh merebah
ditingkah susur jari
menyisip helai rambut
bercanda
memapar mimpi-mimpi
mengendap keluh kesah
diri ini
tak ingin bangkit
dalam dekamanmu
jiwaku meluruh ... batin melega
heghhh ....
mesti kunantikan dalam
kala bertingkah untuk
bergelung dalam ribaanmu itu
... sambil menggigit rindu
** to my valentine ... miss u very much
081205 355919-785426






